Home Buku Runtuhnya Demokrasi
View cart “Pesan Kepada Kaum Muslimin” has been added to your cart.

Runtuhnya Demokrasi

Rp90,000.00

Buku ini merupakan revisi dari buku  penulisiyang sama yang sebelumnya diberi judul “Di Ambang Runtuhnya Demokrasi”.

Sejumlah revisi lain dilakukan dengan memutakhirkan data dan informasi yang terkait dengan waktu, seperti kurs mata uang, jumlah utang negara, dan sejenisnya, untuk membuat buku ini semakin up to date. Beberapa koreksi kecil juga dilakukan untuk informasi yang kurang tepat atau kurang lengkap. Sebagian revisi lainnya adalah penambahan penjelasan dan keterangan baru yang sebelumnya tidak ada atau belum diberikan. Misalnya penambahan sejumlah informasi tentang pemilikan bankbank sentral di berbagai negara serta contoh metamorfosa uang fiat pada bab “Utang Negara: Cara Bankster Mengeruk Kekayaan” dan “Sihir Uang Kertas: Pajak Terselubung”. Termasuk dalam hal ini juga penambahan beberapa Hadits atau ayat Al-Qur’an yang relevan dengan topik tertentu, misalnya yang terkait dengan bab “Mahkamah” dan bab “Muhtasib”. Penambahan informasi juga diberikan pada bab “Futuwwa”.

Untuk memberikan perspektif yang lebih baik bagi pembaca, dalam edisi baru ini ditambahkan sebuah “Prolog”. Isinya menguraikan sebuah teori, atau pandangan yang dilandasi oleh temuan empiris pada perjalanan masyarakat yang terbukti tidak linier melainkan siklikal. Meski dalam konteks agak berbeda, ada dua tokoh besar yang memiliki pandangan serupa tentang perkembangan masyarakat yang mengikuti sebuah siklus ini. Tokoh pertama adalah Polybius (ca. 200–118 SM), seorang sejarawan Yunani pada periode Helenistik yang dikenal dengan bukunya yang berjudul The Histories, dan yang kedua adalah tokoh Muslim abad ke-14, Ibn Khaldun (wafat 1406 M), yang terkenal dengan bukunya, Muqaddimah.

Secara lebih spesifik analisis lebih lanjut atas proses pembusukan sistem demokrasi modern diberikan dengan mengacu kepada sosiolog, sejarawan dan filosof Adam Ferguson, dan kepada pemikir dan filosof Jerman, Friedrich Nietzsche. Dengan mengikuti sudut pandang siklikal ini, maka keruntuhan sebuah sistem ––dalam hal ini sistem ekonomi- politik modern yang didasarkan kepada riba, dalam bentuk negara-fiskal dan demokrasi–– adalah sebuah keniscayaan. Tanda-tandanya menunjukkan bahwa kita telah berada pada awal dari akhir sistem ini. Dalam kalimat Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi: One world dying, another being born. Pengganti demokrasi adalah nomokrasi. Inilah tema utama buku ini.

Category:

Description

Runtuhnya demokrasi membuat gonta-ganti presiden (atau perdana menteri dalam sistem parlementer) melalui Pemilu tidak mengubah apa-apa, kecuali sekadar beda gaya orang belaka. Sistem yang sama tetap berlangsung. Tugas presiden dan jajarannya terus berlanjut: mengambil utang kepada para bankir, menghabiskannya, dan menyicilnya dengan memajaki rakyat. Sistem riba semakin kuat adanya.

Maka kita memerlukan alternatif sebagai solusinya, model tata pemerintahan dan politik yang berbeda. Yakni nomokrasi, pemberlakuan kembali Hukum Ilahi, di bawah kepemimpinan satu orang, entah sebutannya seorang Amir, Sultan, Sunan, Panembahan, Mangku Negeri, dan lain sebagainya, yang hanya menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Inilah solusi yang ditawarkan.