Home Buku Larangan Riba dalam Qur’an dan Sunnah
View cart “Fiqih Riba” has been added to your cart.

Larangan Riba dalam Qur’an dan Sunnah

Rp85,000.00

Shaykh Imran N Hosein adalah salah satu di antara sedikit ulama yang dengan gigih menyerukan umat Islam menjauhi riba. Ia juga menunjukkan bahwa perbankan syariah, dengan segala produknya, adalah penyimpangan dan pengelabuan. Ia mengatakan bahwa bank syariah adalah riba dari pintu belakang. Ini senada dengan pernyataan dari Shaykh Umar I Vadillo, ulama lain yang gigih menyerukan kebatilan riba, yang menyebutkan bank syariah adalah Kuda Troya yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam  ke tengah umat Islam.

Buku Larangan Riba dalam al Qur’an dan Sunnah  ini adalah salah satu upaya Shaykh Imran menyadarkan umat Islam tentang bahaya dan akibat riba. Dia menunjukkan bahwa riba, yang telah menjadi sistem global ini, pada dasarnya adalah instrumen perbudakan dari segelintir elit predator: oligarki bankir.  Riba adalah alat untuk memperkaya segelintir orang dengan cara memiskinkan mayoritas manusia pada skala global.

Dengan merujuk kepada al Qur’an dan hadits, tetapi juga pada kitab-kitab suci lainnya, khususnya Taurat, Zabur dan Injil, Shaykh Imran  menunjukkan bahwa riba adalah penyimpangan sangat mendasar dan berangkat dari pembangkangan satu kaum, yakni kaum Nabi Musa a.s,  kepada Allah SWT. Untuk membenarkan penyimpangan mereka ini  kaum tersebut bahkan telah berani mengubah isi perintah dari Allah SWT. Dan karena itu riba, tidak lain, adalah bentuk kemusyrikan.  Sistem yang  memberlakukannya adalah sistem syirik. Riba adalah produk dari penyekutuan  terhadap Allah SWT.

Dengan berjalannya waktu pembangkangan dan penyimpangan satu kaum itu kemudian diikuti, ditiru, oleh kaum-kaum  ahli kitab sesudahnya, dengan yang terakhir  yang masuk ke dalam liang kadal yang sama, adalah kaum  Muslimin.  Dengan  telah menjadi sistem maka  riba tidak bisa diatasi  secara perorangan.  Riba hanya bisa diatasi secara sistemik, melalui jamaah, yang menegakkan alternatif dari  riba, yaitu muamalah.

Dalam kesimpulannya Shaykh Imran, dengan sangat tepat, menyatakan:

“Perlindungan yang terbaik dari riba yang dapat diambil oleh seseorang adalah dengan menjadi anggota jama’ah yang dipimpin oleh seorang Amir  yang memiliki ilmu pengetahuan akan Dien dan memimpin jama’ah tersebut dengan menuruti  panduan dan perintah Al Qur’an dan sunnah. Setiap orang harus memberikan janji setia (baiat) kepada Amir  tersebut dan kemudian hidup dengan kesepakatan disiplin yang ditegakkannya di bawah kewenangannya.”

Category:

Description

Shaykh Imran N Hosein adalah salah satu di antara sedikit ulama yang dengan gigih menyerukan umat Islam menjauhi riba. Ia juga menunjukkan bahwa perbankan syariah, dengan segala produknya, adalah penyimpangan dan pengelabuan. Ia mengatakan bahwa bank syariah adalah riba dari pintu belakang. Ini senada dengan pernyataan dari Shaykh Umar I Vadillo, ulama lain yang gigih menyerukan kebatilan riba, yang menyebutkan bank syariah adalah Kuda Troya yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam  ke tengah umat Islam.

Buku Larangan Riba dalam al Qur’an dan Sunnah  ini adalah salah satu upaya Shaykh Imran menyadarkan umat Islam tentang bahaya dan akibat riba. Dia menunjukkan bahwa riba, yang telah menjadi sistem global ini, pada dasarnya adalah instrumen perbudakan dari segelintir elit predator: oligarki bankir.  Riba adalah alat untuk memperkaya segelintir orang dengan cara memiskinkan mayoritas manusia pada skala global.

Dengan merujuk kepada al Qur’an dan hadits, tetapi juga pada kitab-kitab suci lainnya, khususnya Taurat, Zabur dan Injil, Shaykh Imran  menunjukkan bahwa riba adalah penyimpangan sangat mendasar dan berangkat dari pembangkangan satu kaum, yakni kaum Nabi Musa a.s,  kepada Allah SWT. Untuk membenarkan penyimpangan mereka ini  kaum tersebut bahkan telah berani mengubah isi perintah dari Allah SWT. Dan karena itu riba, tidak lain, adalah bentuk kemusyrikan.  Sistem yang  memberlakukannya adalah sistem syirik. Riba adalah produk dari penyekutuan  terhadap Allah SWT.

Dengan berjalannya waktu pembangkangan dan penyimpangan satu kaum itu kemudian diikuti, ditiru, oleh kaum-kaum  ahli kitab sesudahnya, dengan yang terakhir  yang masuk ke dalam liang kadal yang sama, adalah kaum  Muslimin.  Dengan  telah menjadi sistem maka  riba tidak bisa diatasi  secara perorangan.  Riba hanya bisa diatasi secara sistemik, melalui jamaah, yang menegakkan alternatif dari  riba, yaitu muamalah.

Dalam kesimpulannya Shaykh Imran, dengan sangat tepat, menyatakan:

“Perlindungan yang terbaik dari riba yang dapat diambil oleh seseorang adalah dengan menjadi anggota jama’ah yang dipimpin oleh seorang Amir  yang memiliki ilmu pengetahuan akan Dien dan memimpin jama’ah tersebut dengan menuruti  panduan dan perintah Al Qur’an dan sunnah. Setiap orang harus memberikan janji setia (baiat) kepada Amir  tersebut dan kemudian hidup dengan kesepakatan disiplin yang ditegakkannya di bawah kewenangannya.”