Ekonomi Profetik

Haji Abdassamad Clarke membuka tulisannya dengan meluruskan makna kata iqtishad ini dengan mengutip dua hadits Nabi shalallahu alaihi wa sallam .  Hadits pertama berbunyi: “Siapa pun yang bersikap moderat tidak akan terjerat dalam kemiskinan.” Dan yang kedua “Iqtiṣad adalah setengah dari penghidupan dan karakter yang baik adalah setengah dari dien.” Maka  penggunaan  istilah-istilah Arab ini merupakan  zona konseptual yang berbeda sepenuhnya.  Sesuatu yang sama sekali tak ada bagi orang Arab, dan kaum muslimin moderen umumnya.

Dengan ringkas, tetapi padat, penulis di atas kemudian menunjukkan kepada kita pengetahuan  dan amal yang telah ada sejak zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Dengan kata lain  merupakan sunnah yang telah sampai kepada kita. Sunnah  tentang  praktek perekonomian dalam masyarakat.  Di antaranya, ada dua hal yang sangat menentukan terkait dengan bisnis  sejak awal pembentukan Ummah di Madinah al Munawarrah.  Pertama,  pewahyuan Surat al-Mutaffifin dan yang kedua  adalah pendirian  pasar, dan diakhiri dengan dua  wahyu yang menentukan yang terkait dengan bisnis. Yakni pelarangan riba dan perintah pencatatan atas transaksi utang atau yang  tertunda.  Di tengah-tengahnya banyak wahyu sehubungan dengan praktik bisnis.  Nabi shalallahu alaihi wa sallam  sendiri pada banyak kesempatan mengatur sunnah bisnis dan perdagangan, sehingga menggarisbawahi pentingnya perdagangan dan bisnis di dalamnya.

Banyak aspek yang diatur oleh Rasul shalallahu alaihi wa sallam seperti larangan ijon, mencegat pedagang sebelum mencapai pasar, larangan pemilikan pasar secara privat, menyelak dalam lelang, memonopoli, menimbun, serta menentukan harga secara sepihak; dan berbagai aturan lain. Nabi shalallahualaihi wa sallam juga mengatur soal alat tukar dan uang, yang terdiri atas dua jenis, yakni nuqud (dinar emas dan dirham perak) dan fulus (koin tembaga untuk transaksi recehan).   Ada lagi aturan yang ditetapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang sangat  relevan di zaman kita saat ini, karena umum dipraktekkan baik secara terang-terangan maupun terselubung, yakni  dua penjualan dalam  satu-transaksi.

Imam Abdassamad dalam hal ini menyatakan: “Signifikansi  larangan itu  bagi kita  adalah bahwa dua penjualan dalam satu  merupakan dasar kebanyakan operasi  dari bank dan membentuk  masyarakat  khususnya yang disebut perbankan syariah. Yaitu  praktek semacam ini:  ‘belilah  rumah itu [secara tunai] bagi saya dan saya akan membelinya [secara kredit] dari Anda’. Tapi mereka menyelimuti  larangan ini dengan  janji sepihak, yang tidak lain hanyalah pengelabuan.” Dan pengelabuan ini, tidak lain, adalah praktek riba.

Dr Asvad menunjukkan bahwa pada masa sebelum dan awal masa moderen, lembaga-lembaga masyarakat Muslim masih utuh dan di dalam lembaga-lembaga ini muamalah dipraktekkan.  Dengan berbagai institusi  mumalah itulah masyarakat berfungsi. Lima pilar muamalah di atas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Institusi-institusi muamalah adalah: pasar; hisbah – kantor muhtasib; pengadilan hukum yang memutuskan kontrak bisnis Islami; gilda-gilda; pencetakan koin;  dan bait al mal – perbendaharaan kekayaan.

Muamalah adalah pengetahuan yang praktis telah hilang dari umat Islam, karena pengamalannya yang telah lama hilang. Maka saatnya telah tiba untuk kita mengembalikannya dalam amal. Buku ini adalah satu di antara sedikit buku sejenis yang memandu kita.

SHARE